Nada Sayuran dalam Parfumeri: Dari Wortel hingga Artichoke

Nada buah-buahan sangat banyak hadir dalam parfumeri. Nada-nada ini sangat beragam — segar seperti pir atau apel, hijau seperti tunas kismis hitam, atau lebih manis seperti raspberry atau mangga.
Nada buah-buahan selalu populer, tetapi arus baru kini mulai terlihat. Semakin banyak nada yang mengekspresikan alam, pedesaan — terutama dalam parfum-parfum alami, bahkan 100% alami. Naturalitas yang sangat tren ini kini mengekspresikan dirinya melalui aktor-aktor baru: sayuran.
Biji Wortel: Esens yang woody dan berbedak
Wortel termasuk dalam famili umbelliferae bersama adas, angelica, dan peterseli. Akarnya tidak menghasilkan ekstrak apa pun, sehingga yang didistilasi adalah bijinya. Sangat mengejutkan dalam palet pembuat parfum, wortel — atau lebih tepatnya biji wortel — adalah esens yang diperoleh melalui distilasi uap air.
Nada biji wortel ini bersifat woody. Ia memiliki pembukaan yang segar dan hijau di atas dasar yang berbedak dan rempah, sedikit berbau tanah. Ia berpadu luar biasa dengan nada-nada berbedak lainnya, violet, mimosa, dan juga dekat dengan aroma rimpang iris.
Karena akar iris sangat mahal, biji wortel yang lima puluh kali lebih murah dari rimpang iris berharga itu dapat membantu memperkuat nada-nada berbedak yang lezat itu.
Dalam nada dasar, esens wortel menjadi lebih membelai, dengan aksen aprikot kering. Dikombinasikan dengan tunas kismis hitam, biji wortel dapat memberikan ilusi aroma mangga.
Produksi dan kualitas
Produksi benih di Prancis sekitar 1.000 ton per tahun. Kualitas kelas dua yang akan dipilih untuk menghasilkan esens wortel. Ada kualitas India yang tidak setara dengan kualitas Prancis.
Ia mengalami perbedaan kualitas karena pemilahan benih setelah seleksi benih fertil. Di sisi lain, minyak esensial yang cukup tidak stabil memiliki problematika lain, sehingga bahan baku ini sulit untuk bersumber.
Parfum yang mengandung biji wortel
Sebagai pelopor, pembuat parfum besar Edmond Roudnitska menggunakan persentase tinggi esens biji wortel dalam Rose de Rochas pada tahun 1949. Biji wortel juga terdapat dalam parfum-parfum berikut:
- Un Jardin sur le Nil dari Hermès
- Aquaman dari Rochas
- Dior Homme dari Christian Dior
- Santal de Mysore dari Serge Lutens
- Iris Silver Mist dari Serge Lutens
- Santal Blush dari Tom Ford
- Volutes dari Diptyque
- Fleur de Carottes dari l’Artisan Parfumeur
- Hiris dari Hermès
- La pluie dari Miller Harris
- I Love Carottes dari Honoré des Prés
Daun Tomat: Akor hijau dan segar
Semua orang ingat klaim pertama daun tomat dalam sebuah parfum. Ini membuat kita terpikir pada sayuran, padahal tomat sejatinya adalah buah.
Dalam parfumeri, daun tomat adalah komposisi dari pembuat parfum — sebuah akor yang mendekati aroma daun, tetapi dibangun di sekitar nada hijau, hidup, segar, dan renyah. Daun tomat pertama kali diumumkan dalam L’Eau de Campagne dari Sisley pada tahun 1976.
Ia kemudian hadir dalam Passion dari Annick Goutal pada tahun 1983, dalam Les Belles dari Nina Ricci pada tahun 1996, Splash Basil dari Marc Jacobs pada tahun 2008, dalam Ninféo Mio dari Diptyque pada tahun 2010, Corsica Furiosa dari Parfum d’Empire pada tahun 2014. Ini sedikit mengingatkan saya pada daun tunas kismis yang diklaim dalam L’Ombre dans l’Eau dari Diptyque dan dalam lilin Baies mereka.
Nada-nada hijau alami — lentisque, daun violet, angelica — atau sintetis seperti cis 3 hexenol dan triplal, dikombinasikan dengan tunas kismis dapat memberikan efek alami daun tomat atau daun kismis.
Sayuran-sayuran baru yang mengejutkan (Inovasi Symrise)
Perusahaan kreasi parfum dan bahan baku Symrise baru-baru ini mengejutkan kita dengan meluncurkan nada-nada sayuran baru. Sebuah alternatif berani untuk memperkaya palet para pembuat parfum.
Symrise mengembangkan, bekerja sama dengan Diana Food yang diakuisisi oleh Symrise, teknologi upcycling yang cukup kompleks — SymTrap™ — yang memungkinkan penawaran bahan-bahan alami yang berani melalui limbah sayuran.
5 sayuran baru ini adalah akor yang diciptakan oleh para pembuat parfum:
- Artichoke (Articoeur): yang menjadi favorit kerajaan saat menjadi kegemaran Louis XIV. Ia hadir lembut, beludru, dan creamy.
- Asparagus (Lilystem): dengan cita rasa hazelnut yang dinikmati semua gastronom dari zaman kuno hingga kini. Ia menawarkan facette gurih dan hazelnut-sereal sekaligus.
- Bawang prei (Atlantide): berasal dari Timur Tengah, lambang Wales. Digunakan untuk mengusir roh jahat. Ia memadukan nuansa iodine dan jamur dalam satu aroma.
- Kembang kol (Hot Chouchou): sedikit hewani. Berbumbu dan berbedak, ia dapat digunakan dalam parfumeri untuk facette hewani baru yang 100% vegan.
- Bawang (Wool Peel): sedikit manis. Ia memberikan nada sulfur, fusant (menyebar), dan tropis.
Kesimpulan
Nada-nada yang tampaknya sangat menarik dari sisi teknis ini tentu akan memperkaya palet pembuat parfum dan menawarkan kreativitas yang lebih besar di masa depan. Namun beberapa pertanyaan layak diajukan:
- Apakah komposisi-komposisi belum pernah ada ini akan memicu revolusi dalam parfumeri seperti halnya penemuan bahan-bahan sintesis pada awal abad ke-20?
- Apakah kita sedang menyaksikan titik balik parfumeri menuju parfumeri yang disebut lebih “hijau”?
- Apakah nada-nada ini akan diterima sebagai argumen penjualan oleh para konsumen?